Langkah utama yang diambil adalah komitmen untuk Tegakkan Aturan Sportivitas di setiap level kompetisi, mulai dari kejuaraan tingkat kabupaten hingga provinsi. Bagi PBSI Kaltim, kemenangan yang diraih dengan cara-cara yang tidak jujur, seperti manipulasi umur atau perilaku tidak sopan di lapangan, tidak memiliki nilai dalam jangka panjang. Oleh karena itu, wasit dan perangkat pertandingan diberikan kewenangan lebih luas untuk menindak tegas setiap pelanggaran etika. Penegakan aturan ini diharapkan dapat memberikan pelajaran bagi para atlet muda bahwa karakter adalah aset yang sama berharganya dengan trofi juara.
Penerapan kedisiplinan ini bertujuan untuk Jaga Integritas Bulu Tangkis Indonesia di mata dunia. Sebagai olahraga yang menjadi kebanggaan nasional, bulu tangkis harus terus dijalankan di atas fondasi kejujuran. PBSI Kaltim menyadari bahwa atlet yang terbiasa disiplin dalam menjunjung tinggi sportivitas di level daerah akan membawa kebiasaan positif tersebut saat mereka dipanggil menuju Pelatnas atau saat mewakili negara di ajang internasional. Integritas inilah yang akan menjaga marwah olahraga tepok bulu tetap bersih dari praktik-praktik curang seperti pengaturan skor (match-fixing) atau penggunaan zat terlarang.
Dalam praktiknya, PBSI Kaltim secara rutin mengadakan sosialisasi mengenai kode etik atlet kepada seluruh klub di bawah naungannya. Para atlet diajarkan bahwa menghormati lawan, wasit, dan penonton adalah bagian integral dari sebuah pertandingan. Disiplin mental untuk tetap tenang dan jujur saat poin-poin kritis sangat ditekankan. Selain itu, pengurus provinsi juga melakukan pengawasan ketat terhadap data administrasi atlet guna mencegah pencurian umur, sebuah masalah klasik yang dapat merusak tatanan pembinaan atlet sejak usia dini.
Selain pengawasan eksternal, kedisiplinan internal juga menjadi prioritas. Atlet yang menunjukkan perilaku tidak sportif, seperti merusak fasilitas latihan atau tidak menghargai pelatih, akan mendapatkan sanksi administratif yang tegas. PBSI Kaltim percaya bahwa disiplin dalam menjaga perilaku akan berkorelasi positif dengan kedisiplinan dalam berlatih. Seorang atlet yang memiliki rasa hormat terhadap Tegakkan Aturan Sportivitas cenderung lebih mudah diarahkan dan memiliki mentalitas yang lebih stabil saat menghadapi tekanan besar di tengah pertandingan yang sengit.
