Menjaga performa atlet di wilayah tropis dengan tingkat kelembapan yang ekstrem merupakan tantangan besar bagi tim medis dan pelatih. Di Kalimantan Timur, suhu udara yang tinggi seringkali dibarengi dengan uap air yang jenuh, membuat proses penguapan keringat menjadi terhambat. Kondisi ini memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk mendinginkan suhu inti, yang berujung pada pengurasan mineral penting secara cepat. Oleh karena itu, tim PBSI Kaltim mulai menerapkan pendekatan baru dalam manajemen cairan tubuh, yakni dengan mengutamakan asupan elektrolit yang bersumber langsung dari bahan-bahan organik guna memastikan stabilitas performa pemain di lapangan.
Zat penghantar listrik dalam tubuh, seperti natrium, kalium, dan magnesium, adalah kunci utama agar kontraksi otot dan transmisi saraf berjalan lancar. Saat seorang atlet bertanding dalam cuaca yang sangat panas, kehilangan mineral ini melalui keringat dapat menyebabkan kram otot yang tiba-tiba hingga penurunan konsentrasi yang fatal. Penggunaan sumber alami seperti air kelapa muda, infus buah-buahan, hingga larutan madu dengan sedikit garam laut menjadi pilihan utama di kamp pelatihan. Dibandingkan dengan minuman isotonik pabrikan yang seringkali mengandung pemanis buatan dan pewarna kimia, sumber organik ini lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang tidak stabil.
Strategi hidrasi yang diterapkan di Kaltim juga melibatkan penjadwalan asupan cairan yang sangat ketat. Atlet dididik untuk tidak menunggu rasa haus datang sebelum minum. Dalam kondisi udara yang lembap, sinyal haus seringkali terlambat dikirim oleh otak, padahal tubuh sudah mengalami dehidrasi ringan. Dengan memberikan asupan cairan sedikit demi sedikit namun berkelanjutan sebelum, saat, dan sesudah latihan, volume darah atlet tetap terjaga secara optimal. Hal ini sangat krusial untuk memastikan jantung tidak bekerja terlalu berat dalam memompa oksigen ke seluruh otot yang sedang beraksi dalam reli-reli panjang yang melelahkan.
Selain jenis minuman, suhu cairan yang dikonsumsi juga diperhatikan secara mendalam. Cairan yang terlalu dingin dapat menyebabkan kejutan pada sistem internal, sementara cairan yang terlalu hangat kurang efektif dalam membantu menurunkan suhu tubuh. Tim ahli gizi di PBSI wilayah ini meracik ramuan herbal lokal yang juga berfungsi sebagai anti-inflamasi alami untuk mempercepat pemulihan jaringan otot setelah latihan intensitas tinggi. Pendekatan holistik ini membuktikan bahwa keberhasilan seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka lakukan di atas lapangan, tetapi juga oleh apa yang mereka masukkan ke dalam tubuh mereka sebagai bahan bakar.
