Dunia bulu tangkis modern menuntut ketahanan fisik yang berada di atas rata-rata manusia normal. Untuk mencapai level tersebut, para pelatih sering kali harus memutar otak guna menemukan metode latihan yang mampu mendobrak batasan limit tubuh seorang atlet. Di Kalimantan Timur, sebuah langkah berani diambil oleh jajaran pelatih provinsi dengan menerapkan pola latihan di dataran tinggi. Program yang dikenal dengan nama adaptasi oksigen rendah ini menjadi menu wajib bagi para atlet PBSI Kaltim, di mana mereka harus menjalani serangkaian latihan fisik ekstrem di perbukitan yang menantang.
Latihan di medan perbukitan bukan sekadar tentang berlari menanjak, melainkan sebuah upaya sistematis untuk meningkatkan efisiensi kerja jantung dan paru-paru. Saat berada di ketinggian dengan kadar oksigen yang lebih tipis, tubuh dipaksa untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah agar pasokan oksigen ke seluruh otot tetap terjaga. Bagi atlet PBSI Kaltim, proses adaptasi ini pada awalnya sangat menyiksa. Napas akan terasa lebih pendek, dan otot-otot kaki akan terasa lebih cepat panas. Namun, inilah kunci utama dari latihan ekstrem tersebut; ketika mereka kembali bertanding di lapangan indoor yang berada di dataran rendah, kapasitas paru-paru mereka akan terasa jauh lebih luas dan stamina mereka menjadi seolah tidak ada habisnya.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, para atlet sudah harus menaklukkan jalur tanjakan dengan kemiringan yang bervariasi. Latihan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan paru-paru, tetapi juga membangun kekuatan otot paha dan betis secara alami. Medan bukit yang tidak rata memaksa pergelangan kaki untuk lebih aktif bekerja menjaga keseimbangan, yang secara tidak langsung meningkatkan stabilitas saat mereka melakukan pergerakan eksplosif di lapangan badminton. Latihan ekstrem ini juga menjadi ujian mental yang sangat berat. Berlari di bawah tekanan oksigen yang minim membutuhkan kemauan baja untuk tidak berhenti sebelum mencapai puncak.
Selain lari tanjakan, para atlet juga melakukan sesi drill teknik di udara terbuka. Meskipun tanpa net yang standar, mereka melakukan gerakan bayangan (shadow badminton) untuk menjaga kelenturan tubuh. Pelatih memantau detak jantung setiap atlet secara berkala menggunakan perangkat sensor untuk memastikan bahwa intensitas latihan tetap berada dalam batas aman namun tetap efektif. Program ini dilakukan secara periodik, terutama saat memasuki fase pra-kompetisi untuk turnamen besar seperti PON atau sirkuit nasional. Dengan cara ini, atlet Kaltim memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan lawan yang hanya berlatih di dalam gedung olahraga biasa.
